Pekanbaru — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kembali mengintai memasuki musim kemarau. Pemerintah Provinsi Riau memperkuat upaya penanganan dengan menerima tambahan satu unit helikopter water bombing dari Australia.
Dua Helikopter Siaga, Satu Dalam Perjalanan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau Edy Afrizal menyampaikan bahwa saat ini terdapat dua helikopter yang disiagakan. “Kita akan mendapat tambahan satu helikopter water bombing lagi. Saat ini masih dalam perjalanan dari Australia,” katanya di Pekanbaru, Rabu (3/6/2026).
Penambahan armada ini dinilai krusial mengingat curah hujan yang tidak merata menyebabkan sebagian wilayah Riau mengalami kekeringan, sehingga meningkatkan risiko kebakaran lahan secara signifikan.
Restorasi Hutan Bersama Jepang
Di sisi pencegahan, Belantara Foundation bersama mitra sektor swasta asal Jepang menanam bibit pohon secara simbolis di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim, Riau, Kamis (11/6/2026).
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, mengungkapkan bahwa target pemulihan lahan terdegradasi mencapai 1,5 miliar hektare pada 2030. “Kami menggunakan pendekatan kolaborasi multipihak untuk mendukung gerakan restorasi hutan terdegradasi di Sumatera, khususnya Riau,” kata Dolly.
Pengawasan Tambang di Kampar
Sementara itu, Dinas ESDM Riau juga melakukan pengawasan terhadap operasional pertambangan galian C di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Kepala Bidang Mineral dan Batubara Wan Saiful Effendi menemukan kegiatan penambangan oleh subkontraktor yang tidak memiliki izin lengkap, dengan sekitar 50 trip kendaraan angkutan keluar dari lokasi tambang setiap hari.
Kesimpulan: Riau menghadapi ancaman ganda — karhutla yang mengancam kesehatan masyarakat dan degradasi hutan yang terus berlanjut. Kolaborasi internasional dengan Australia dan Jepang menjadi harapan baru untuk mitigasi bencana dan restorasi ekosistem.




Memuat komentar...