Jakarta – Inflasi Amerika Serikat kembali meningkat pada April 2026 di tengah lonjakan harga energi dan pangan akibat konflik di Timur Tengah. Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS, Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 0,6% secara bulanan pada April, setelah sebelumnya melonjak 0,9% pada Maret.
Secara tahunan, inflasi AS mencapai 3,8%, naik dari 3,3% pada bulan sebelumnya. Angka ini menjadi level tertinggi sejak Mei 2023 dan menambah tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump, terutama menjelang pemilu sela pada November mendatang.
Harga Energi Jadi Pemicu Utama
Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh melonjaknya harga energi setelah konflik AS-Israel dengan Iran sempat mendorong harga minyak dunia menembus di atas 100 dolar AS per barel pada Maret.
Meski harga minyak mulai mereda setelah adanya gencatan senjata pada awal April, harga bahan bakar tetap berada di level tinggi dan mulai berdampak ke sektor lain.
Harga energi tercatat naik 3,8% dan menyumbang lebih dari 40% terhadap kenaikan CPI April. Harga bensin naik 5,4%, sementara harga diesel melonjak 17%. Tarif listrik juga meningkat akibat tingginya permintaan dari pusat data kecerdasan buatan.
Harga Pangan Ikut Naik
Tekanan inflasi juga menyebar ke sektor pangan. Harga makanan naik 0,5% pada April setelah stagnan pada Maret. Inflasi bahan makanan di toko meningkat 0,7%, menjadi kenaikan terbesar sejak Agustus 2022.
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan antara lain daging sapi, kopi, buah, sayuran, minuman nonalkohol, produk susu, dan telur. Ekonom memperingatkan harga pangan masih berpotensi naik jika gangguan pasokan pupuk dan distribusi global terus berlanjut.
Trump Hadapi Tekanan Politik
Kenaikan inflasi membuat pemerintahan Trump semakin tertekan. Trump sebelumnya memenangkan Pemilu 2024 dengan janji menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
Namun, inflasi kini mulai melampaui pertumbuhan upah untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Kondisi ini membuat daya beli rumah tangga AS semakin tertekan.
Trump juga sempat mengusulkan pemangkasan pajak bensin federal sebesar 18,4 sen per galon untuk membantu menahan kenaikan harga bahan bakar.
Dampak ke Pasar Global
Inflasi yang tinggi memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Akibatnya, pasar saham Wall Street melemah, imbal hasil obligasi AS naik, dan dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama.
Kondisi ini juga perlu diwaspadai negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika dolar AS terus menguat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik bisa meningkat.
Kesimpulan
Kenaikan inflasi AS ke level 3,8% menunjukkan bahwa konflik Iran tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga langsung memengaruhi harga energi, pangan, dan stabilitas ekonomi global.
Bagi Indonesia, kondisi ini perlu dicermati karena inflasi AS yang tinggi dapat memengaruhi arah suku bunga global, pergerakan dolar, serta tekanan terhadap rupiah.




Memuat komentar...